24 September 2026, 16:22 WIB
Harga minyak turun, justru di saat kawasan Asia sedang menyerap minyak mentah dalam jumlah terbanyak sejak Februari. Data terbaru menunjukkan impor Asia diperkirakan mencapai 23,96 juta barel per hari pada September, naik dari 23,38 juta barel per hari pada Agustus.
Sekilas ini terdengar janggal: kenapa harga malah melemah saat pembelian terlihat begitu deras? Kuncinya ada pada cara pasar minyak bekerja. Harga bergerak lebih banyak mengikuti perkiraan ke depan, bukan sekadar jumlah yang sedang dibeli hari ini. Ketika begitu banyak minyak sudah dalam perjalanan masuk ke kawasan, artinya kebutuhan jangka pendek sebagian besar sudah terpenuhi — pembeli, boleh dibilang, sudah "belanja di depan". Pasar pun membaca pasokan mengalir lancar, kekhawatiran akan kelangkaan mereda, dan harga cenderung melunak. Memahami ini berguna untuk berita berikutnya: angka permintaan yang besar tidak otomatis berarti harga naik, karena yang dihargai pasar adalah apa yang diperkirakan terjadi selanjutnya.
Di sisi lain, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum reda. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding AS dan Israel memicu ketidakstabilan global. Selama risiko gangguan di jalur pasokan masih membayang, sebagian pelaku pasar tetap berhati-hati, dan faktor ini bisa menahan harga dari penurunan yang lebih dalam.
Arah ke depan bergantung pada tarik-menarik dua hal ini. Kalau ketegangan meningkat sampai benar-benar mengganggu aliran minyak, tekanan ke atas bisa kembali muncul. Sebaliknya, jika laju impor mulai melambat atau muncul tanda permintaan mendingin, pelemahan harga bisa berlanjut. Untuk saat ini gambarannya masih belum pasti dan sangat bergantung pada perkembangan data serta situasi politik.